PALEMBANG – BERITAMETROLIVE.COM
Aktivis senior Sumatera Selatan, Syafran Suprana atau yang akrab disapa Kuyung Syafran, menegaskan pentingnya budaya diskusi dan silaturahmi intelektual dalam membangun kualitas generasi muda.
Hal itu disampaikannya dalam pertemuan bersama aktivis dan mahasiswa di kediaman Yan Coga, Posko Koalisi Aktivis Rakyat Bawah, Minggu (29/03/2026).
Menurut Syafran, silaturahmi tidak boleh hanya menjadi ajang berkumpul tanpa arah, melainkan harus diisi dengan diskusi, tukar pikiran, dan kajian persoalan sosial.
“Bagi seorang aktivis, diskusi itu adalah kemewahan. Kalau mahasiswa menganggap diskusi membosankan, maka intelektualitasnya patut dipertanyakan,” tegasnya.
Ia juga mengkritik pola mahasiswa yang hanya berorientasi pada rutinitas kuliah tanpa kepedulian terhadap lingkungan sosial.
“Jangan hanya datang kuliah lalu pulang. Mahasiswa harus punya nilai lebih, baik secara intelektual maupun sosial,” ujarnya.
Syafran menilai, di tengah kemudahan akses informasi saat ini, mahasiswa justru menghadapi tantangan baru, yakni rendahnya kemauan untuk mengolah informasi menjadi pemikiran kritis.
“Hari ini informasi ada di tangan mereka. Tapi kalau tidak dibarengi diskusi dan kajian, itu tidak akan bermakna,” katanya.
Ia menegaskan, aksi demonstrasi tidak cukup tanpa analisa yang matang melalui diskusi dan pertukaran gagasan.
Dalam pesannya, Syafran mengibaratkan mahasiswa sebagai lilin yang mampu menerangi lingkungan sekitar, meskipun harus berkorban.
Ia juga menyoroti kecenderungan sebagian mahasiswa yang mulai mengabaikan kepentingan sosial dan lebih fokus pada kepentingan pribadi.
“Kalau sejak sekarang tidak peduli dengan lingkungan, bagaimana nanti mereka memimpin bangsa ini,” ungkapnya.
Sementara itu, sebagai tuan rumah, Yan Coga menegaskan komitmennya untuk mendukung kegiatan intelektual generasi muda.
“Kami membuka ruang ini bukan sekadar tempat berkumpul, tetapi sebagai wadah lahirnya gagasan dan pemikiran besar dari anak-anak muda Sumatera Selatan,” ujarnya.
Yan Coga menegaskan pihaknya siap memfasilitasi diskusi rutin, kajian sosial, hingga penguatan kapasitas mahasiswa dan aktivis.
Namun, ia menekankan bahwa semua itu bergantung pada kemauan generasi muda itu sendiri.
“Fasilitas tanpa kemauan tidak akan menghasilkan apa-apa. Tinggal sekarang, apakah adik-adik ini mau bergerak atau tidak,” tegasnya.
Ia berharap, tempat tersebut dapat menjadi pusat pergerakan intelektual rakyat dan melahirkan generasi muda yang kritis serta peduli terhadap kondisi sosial.
“Masa depan daerah dan bangsa ini ada di tangan anak-anak muda yang mau berpikir, bergerak, dan peduli,” pungkasnya.
Penulis : Riela
Editor : Redaksi/beritametrolive.com















