Palembang – BMNEWS.COM
Sumatera Selatan (Sumsel) mencatat deflasi pada bulan September 2024, memberikan harapan bagi perekonomian daerah. Intan Yudistri Pebrina, Statistisi Ahli Madya Statistik Distribusi BPS Provinsi Sumsel, mengungkapkan bahwa deflasi ini dipicu oleh penurunan harga pada kelompok makanan, minuman, dan tembakau, yang berkontribusi sebesar 0,15 persen terhadap deflasi. Selasa (1/10/24).
Deflasi ini terutama disebabkan oleh turunnya harga komoditas seperti cabai, telur, dan tomat. Intan menjelaskan, panen yang baik dan peningkatan produksi menjadi faktor utama di balik tren positif ini. “Lima komoditas utama penyumbang deflasi terbesar adalah cabai merah, cabai rawit, telur ayam ras, tomat, dan bensin,” ujarnya.
Meski demikian, secara tahunan, Sumsel masih mengalami inflasi. Ini menunjukkan adanya faktor lain yang berkontribusi pada kenaikan harga, seperti harga bahan bakar minyak dan tarif transportasi. Intan menekankan pentingnya pengendalian inflasi yang konsisten, terutama menjelang pilkada mendatang.
Dia optimis bahwa target deflasi tahun 2024 dapat tercapai, dengan prediksi puncak deflasi akan terjadi pada bulan Desember. “Selama inflasi bisa dikendalikan dan harga stabil, semuanya bisa terkendali,” tutupnya.
Pemerintah dan stakeholder diharapkan tetap waspada dan proaktif dalam menjaga stabilitas harga, terutama di musim hujan yang dapat mengganggu distribusi barang. Dengan pengendalian inflasi yang efektif, daya beli masyarakat diharapkan dapat meningkat, membawa kesejahteraan bagi warga Sumsel.















