Palembang – Wakil Gubernur Sumatera Selatan, Cik Ujang, akhirnya angkat suara terkait ricuhnya aksi Aliansi Cipayung Plus di Mapolda Sumsel yang berujung pada penganiayaan mahasiswa dan jurnalis.
Wagub mengaku prihatin dan mengecam keras insiden kekerasan tersebut.
“Saya sangat prihatin terhadap penganiayaan mahasiswa dan 2 jurnalis saat meliput aksi karhutla. Ini tidak bisa dibiarkan dan jangan sampai terulang lagi,” ujar Cik Ujang dalam pernyataannya, Rabu (14/10/2026).
Cik Ujang menegaskan, mahasiswa yang menyampaikan aspirasi soal kebakaran hutan dan lahan (karhutla) adalah bagian dari kontrol sosial yang harus dihormati. Apalagi, jurnalis yang menjadi korban sedang menjalankan tugas profesional yang dilindungi Undang-Undang Pers.
“Rekan-rekan jurnalis itu bekerja profesional. Tindakan pemukulan dan intimidasi, apalagi sampai meminta menghapus video liputan, tidak bisa dibenarkan dalam bentuk apapun,” tegasnya.
Minta Polisi Usut Tuntas, Jangan Tebang Pilih
Tak hanya prihatin, Cik Ujang juga secara tegas meminta kepolisian untuk bertindak. Ia mendesak Polda Sumsel mengusut tuntas kasus pemukulan terhadap mahasiswa dan jurnalis tersebut secara transparan dan profesional.
Wagub meminta agar tidak ada pihak yang kebal hukum dan prosesnya tidak tebang pilih. Siapa pun pelakunya, termasuk jika ada Orang Tak Dikenal (OTK) yang sengaja ditunggangi, harus diproses hukum.
“Kita minta kepolisian usut tuntas. Siapa pelakunya, siapa aktor intelektualnya, harus dibuka terang benderang. Hukum harus adil untuk semua,” ujarnya.
Menurutnya, Mapolda Sumsel seharusnya menjadi tempat paling aman untuk menyampaikan aspirasi. Jika kericuhan terjadi di depan markas polisi sendiri, hal itu menjadi catatan serius yang harus dievaluasi bersama.
“Kita jaga Sumsel ini tetap kondusif. Aspirasi mahasiswa kita dengarkan, tapi keamanan dan keselamatan semua pihak, termasuk jurnalis, harus menjadi prioritas. Kebebasan berpendapat harus dijamin,” pungkas Cik Ujang.
Seperti diketahui, aksi Cipayung Plus di Mapolda Sumsel pada Selasa (13/10/2026) berakhir ricuh. Enam mahasiswa dilaporkan luka-luka dan dua jurnalis lokal menjadi korban pengeroyokan serta intimidasi saat merekam kejadian, bahkan dipaksa menghapus video oleh OTK.
















