DEPOK — Upaya mendorong pemberdayaan masyarakat dalam pengelolaan sampah terus dilakukan di lingkungan RW 20. Salah satunya melalui Pelatihan Homestead Living yang mengusung konsep zero waste dan pemberdayaan ekonomi sirkular melalui pengolahan sampah organik.
Kegiatan yang diselenggarakan oleh Ketua RW 20 tersebut menghadirkan Rahmat Wibowo, CPH sebagai pembicara atau narasumber. Pelatihan diikuti Karang Taruna RW 20, kader PKK dan Posyandu RW 20, Ketua RT 01 hingga RT 11, serta pengurus RW 20. Sabtu (26/9/2026).
Pelatihan ini secara khusus mengajarkan bagaimana masyarakat dapat mengolah sampah organik sehingga tidak langsung berakhir sebagai limbah, tetapi dapat dimanfaatkan melalui metode pengelolaan yang memiliki nilai lingkungan sekaligus berpotensi memberikan manfaat ekonomi.
Dalam pemberdayaan masyarakat untuk menjalankan konsep zero waste, terdapat dua pendekatan yang dapat diterapkan, yakni Bottom to Top dan Top to Bottom.
Pada pelatihan kali ini, RW 20 mengusung pendekatan Top to Bottom. Melalui konsep tersebut, pengurus RW 20 menggerakkan para pengurus RT, kader PKK dan Posyandu, serta para remaja Karang Taruna untuk bersama-sama memahami sekaligus menerapkan pengelolaan sampah organik di lingkungan masing-masing.
Salah satu praktik yang diperkenalkan dalam pelatihan adalah budidaya maggot BSF (Black Soldier Fly). Metode ini menjadi bagian dari upaya mengenalkan alternatif pengolahan sampah organik yang dapat diterapkan di tingkat rumah tangga maupun lingkungan.
Melalui budidaya maggot BSF, sampah organik dapat dimanfaatkan sebagai bagian dari proses budidaya sehingga membantu mengurangi volume sampah yang dibuang. Di sisi lain, hasil budidaya juga memiliki potensi untuk dikembangkan menjadi bagian dari kegiatan ekonomi sirkular.
Konsep tersebut diharapkan tidak hanya meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap pentingnya memilah dan mengolah sampah, tetapi juga mendorong munculnya kegiatan produktif yang dapat memberikan nilai tambah bagi masyarakat.
Keterlibatan berbagai unsur masyarakat menjadi bagian penting dalam pelaksanaan program tersebut. Para Ketua RT, kader PKK dan Posyandu, Karang Taruna, serta pengurus RW diharapkan dapat menjadi penggerak di lingkungan masing-masing dalam menerapkan praktik pengelolaan sampah organik.
Dengan pendekatan Top to Bottom, program zero waste di RW 20 diharapkan dapat dilakukan secara lebih terarah, mulai dari tingkat pengurus RW hingga lingkungan RT dan masyarakat.
Pelatihan Homestead Living ini sekaligus menjadi langkah awal untuk membangun pola pengelolaan sampah yang lebih berkelanjutan, dengan menggabungkan aspek lingkungan, pemberdayaan masyarakat, dan ekonomi sirkular.
Melalui pengolahan sampah organik dan budidaya maggot BSF, RW 20 mendorong agar persoalan sampah tidak hanya dipandang sebagai masalah lingkungan, tetapi juga dapat menjadi peluang untuk menciptakan kegiatan produktif berbasis masyarakat.
Penulis : Riela
Editor : Redaksi/beritametrolive.com
Sumber Berita: BERITAMETROLIVE.COM
















